logo web baru

BROWSING: Herba

Herba Pelangsing dari Dapur Sendiri

03 Apr 2017 0 comment

Tak perlu memboroskan uang dengan membeli herba yang beredar di pasaran, karena herba pelangsing sesungguhnya bisa diperoleh dari dapur sendiri. Namun sebelum mengkonsumsi, pahami cara kerja dan “aturan mainnya” terlebih dahulu.

Untuk menghindari berat badan yang berlebih (obesitas), sesungguhnya Ratih (bukan nama sebenarnya, 41 tahun) sudah paham bahwa antara kalori yang masuk dan keluar harus seimbang. Selain menghindari makanan bersantan dan berlemak, ibu dua anak yang berdomisili di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan, ini juga mengaku sudah rutin berjalan kaki di sekitar kompleks rumahnya, sedikitnya dua kali seminggu.

Yang membuatnya tak habis pikir, “Makan yang berlemak maupun olahraga rutin sudah bisa dilakukan. Tapi saya selalu lapar mata setiap kali melihat camilan,” keluhnya. Karena sudah kewalahan mengendalikan nafsu makan itulah, perempuan yang bobot tubuhnya terhitung obesitas (tinggi 160 cm, berat 69 kg) ini mulai bertanya ke sana ke mari, sekiranya ada ramuan tradisional atau herba yang bisa membantu mengatasi keluhannya.

Menurut Dr Nizmawardini Yaman, MKes, dokter yang mendalami pengobatan herba dan akupunktur, herba memang sudah lazim digunakan untuk membantu mengatasi obesitas. “Mereka bekerja dengan beberapa cara, mulai dari memperbaiki fungsi sistem pencernaan, melancarkan buang air besar, mencegah penumpukan lemak dalam darah, hingga mengontrol nafsu makan,” ujar anggota Perhimpunan Dokter Pemerhati Kedokteran Timur (PDPKT) yang biasa disapa dengan sebutan Dr Dini ini.

Tanda obesitas

Obesitas berarti  kelebihan berat badan akibat penumpukan lemak di dalam tubuh. Secara klinis, kondisi ini diukur menggunakan metode perhitungan Body Mass Index (BMI), dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter). Hasil bagi yang mencapai 30 atau lebih, digolongkan obesitas. Tapi sebagian kalangan mengatakan cara ini tidak bisa menjadi patokan, karena jumlah BMI tidak membedakan apakah berat badan seseorang itu lebih didominasi lemak atau otot.  

Namun secara umum, obesitas bisa dilihat dari ciri-ciri fisik. Tanda-tandanya antara lain, wajah bulat, pipi tembem, dagu rangkap, perut buncit, atau justru berlipat-lipat. Pada obesitas jenis buah pir, lemak lebih cenderung tertimbun di pinggul, pantat, dan paha. Sementara yang berjenis  buah apel, lemak cenderung tertimbun di daerah perut. Yang terakhir adalah jenis kotak buah, timbunan lemak merata di seluruh tubuh, sehingga penderitanya tampak membulat seperti melon.

Tubuh punya “jam piket”

Menurut penilaian Dr Dini, kondisi obesitas sebenarnya bermula dari gangguan energi berupa panas berlebihan, terutama pada bagian limpa-lambung, limpa-ginjal, juga hati.
Menurut ilmu Traditional Chinese Medicine (TCM), manusia mempunyai 12 organ utama berupa paru-paru, usus besar, lambung, limpa, jantung, usus kecil, kantung kemih, ginjal, selaput jantung, kelenjar getah bening, empedu, dan hati, yang oleh masyarakat Cina disebutkan secara berurutan sesuai “jam piket”-nya.

Maksudnya begini. Dalam proses metabolisme, memang semua organ yang ada di dalam tubuh kita saling bekerjasama. Namun ada waktu-waktu tertentu suatu organ akan bekerja secara maksimal: dimulai dari paru-paru yang bekerja antara pukul tiga sampai lima pagi, usus besar pukul lima sampai tujuh pagi, lambung pukul tujuh sampai sembilan pagi, limpa pukul sembilan sampai sebelas, dan seterusnya.

Cara mengamatinya cukup sederhana. Saat bangun tidur, misalnya, sekitar pukul lima hingga tujuh pagi kita cenderung ingin buang air besar. Siang hari, ketika jantung bekerja maksimal, kita mampu beraktivitas secara optimal. Sebaliknya, saat kita tidur pada malam hari, tibalah giliran hati untuk bekerja mendetoksifikasi racun.

Aliran qi terhambat

Agar setiap organ tersebut bisa bekerja secara optimal, tubuh memerlukan aliran energi yang lancar, terdiri dari energi panas (yang) dan dingin (yin) yang seimbang.

Namun sayang, gaya hidup manusia belakangan ini banyak berubah dari ketentuan alam. “Contohnya, kita sering makan banyak di malam hari, tidur dengan perut penuh, atau justru tidak tidur hingga dini hari karena  suatu alasan seperti clubbing atau melembur pekerjaan. Akibatnya, mekanisme kerja 12 organ tadi menjadi kacau,” tutur Dr Dini.

Khusus pada kasus obesitas, permasalahannya sering berpangkal pada bagian limpa, lambung, dan ginjal, yang mengalami kekurangan energi akibat jam piketnya dirusak oleh pola makan dan gaya hidup seperti disebutkan tadi.

Karena kekurangan energi, lambung menjadi lebih sulit mencerna makanan. Padahal, makanan yang tidak tercerna dengan sempurna tidak akan diserap dengan baik oleh usus halus, yang bertugas menyerap sari makanan. Kekurangan energi juga akan membuat usus besar sulit mendorong sisa makanan keluar, sehingga menimbulkan sembelit alias buang air besar yang tidak lancar. Kondisi inilah yang memicu terjadinya gangguan metabolisme, termasuk obesitas.

Energi yang kurang akan melemahkan aliran qi ke seluruh tubuh. Jika ini terjadi pada organ limpa dan lambung, akan menyebabkan terjadinya kondisi lembab dan energi panas yang berlebihan. Penderitanya akan cenderung sulit mengontrol napsu makan, mempunyai emosi yang sensitif, dan agresif.

Lebih lanjut, kekurangan qi pada organ ginjal menyebabkan seseorang cenderung loyo, tidak gesit,  dan mudah lelah. Sementara bila hambatan qi terjadi pada organ hati, akan menyebabkan “panas hati” dengan gejala emosi yang labil dan mudah melarikan diri pada makanan, terutama yang manis-manis. Keadaan ini diyakini membuat penderitanya mudah terperangkap pada lingkaran setan, yaitu makan berlebihan.

Ragam peran herba

Obesitas umumnya dapat diatasi dengan herba yang memberi efek mendinginkan (dominan yin). Contohnya antara lain daun dan buah asam (Tamarindus indica),  lidah buaya (Aloe vera), dan mengkudu (Morinda citrifolia).

Sementara yang digunakan untuk mengatasi kondisi lembab umumnya berupa herba yang mengandung tanin, yaitu senyawa yang bersifat menciutkan selaput lendir, seperti daun kemuning (Murraya paniculata), jeruk nipis (Citrus aurantifolia), kunyit (Curcuma domestica), dan teh (Camelia sinensis).

Beberapa herba yang bersifat merangsang buang air besar seperti daun jati belanda (Guazoma ulmofolia), kulit delima (Punica granatum), dan buah senna (Cassia spp) juga sering dijadikan ramuan pelangsing. Manfaatnya ini hampir sama dengan seledri (Apium graviolens) dan kunci pepet (Kaemferia angustifolia), yang mengandung minyak atsiri. Sudah banyak diketahui, minyak atsiri berkhasiat merangsang enzim pencernaan agar bekerja lebih aktif, sehingga proses pencernaan dan pembuangan makanan lebih optimal.

Menurut Dr Dini, karena penderita obesitas umumnya juga mengalami gangguan metabolisme lemak, herba-herba tadi sering digunakan berbarengan, atau ditambah lagi dengan herba yang berkhasiat mencegah penumpukan lemak dalam darah, seperti bawang putih (Allium sativum) dan wortel (Daucus carota).

2 foto teh herba

Cara mengkonsumsi

Herba-herba pelangsing tadi memang bisa diperoleh dengan  mudah dari dapur atau kebun sendiri. Menariknya, jenis herba yang cocok pada seseorang belum tentu cocok bagi orang lain, tergantung kasus dan kondisinya masing-masing.

Penderita obesitas yang limpa dan lambungnya panas, misalnya, sebaiknya jangan langsung mengkonsumsi herba yang rasanya asam seperti buah asam atau jeruk nipis. Namun disarankan untuk mengkonsumsi herba “dingin” lainnya seperti lidah buaya atau mengkudu. Alasannya, “Bila limpa dan lambung masih panas diberi herba yang asam, akan menyebabkan diare,” begitu alasan Dr Dini.

Oleh sebab itu, yang perlu diperhatikan sebelum mengkonsumsi herba pelangsing adalah mencermati diri sendiri terlebih dahulu: gejala apa yang sering dialami? Perhatikan pola makan dan gaya hidup sehari-hari: apakah sudah seimbang?

“Mulailah dengan mengkonsumsi makanan yang kaya enzim, seperti sayuran dan buah-buahan segar. Hindari daging merah, makanan yang digoreng, bertepung, manis-manis, atau justru berkadar garam tinggi, seperti yang banyak terdapat pada makanan dalam kemasan. Minumlah air putih sebelum haus, karena terkadang rasa lapar adalah manifestasi dari haus. Jangan lupa, imbangi dengan aktivitas fisik yang teratur, cukup tidur di malam hari, dan kelola stres sebaik mungkin,” tegasnya.

Bila dengan cara itu herba pelangsing masih diperlukan, perhatikan cara mengkonsumsinya, antara lain sebagai berikut: bagi herba yang direbus, sebaiknya dimasak menggunakan panci kaca atau porselen. Sesuaikan dosisnya dengan kebutuhan, bisa dimulai dari setengah resep terlebih dahulu. Perhatikan reaksi tubuh. Jika herba tersebut menimbulkan rasa lemas, pusing, diare, atau buang air kecil berlebihan, segera hentikan. (N)

Beberapa ramuan herba pelangsing bisa dibuat sendiri di rumah. Berikut ini beberapa contohnya:

3 foto bawang putih

Bawang putih (Alium sativum)

Sebanyak 2 siung bawang putih segar dikupas, iris-iris atau cincang , kemudian ditelan. Bisa juga ditelan bersama nasi, lakukan dua kali sehari pada siang dan sore hari.

4 foto kunyit

Kunyit (Curcuma domestica)

Kunyit dicuci, dilumatkan, rebus dengan 1 gelas air. Tambahkan daun asam segar (atau bisa diganti air asam jawa). Setelah mendidih, biarkan selama 5 menit, saring. Minum sekaligus sekali sehari.

6 foto daun sledri

Seledri (Apium graviolens)

Sebanyak 30 g akar seledri segar dicuci bersih, kemudian direbus dengan 2 gelas air hingga tersisa 1 gelas. Setelah dingin, air disaring. Minum sekaligus.

5 foto wortel

Wortel (Daucus carota)

Buat jus dari 250 g wortel, 3 batang seledri, dan 3 siung bawang putih yang sudah dikupas dan dicuci bersih, dan 200 ml air putih. Minum setiap pagi, saat perut kosong.


Resep: Dr Nizmawardini Yaman, MKes.
Catatan: herba pelangsing tidak dianjurkan untuk anak-anak, ibu hamil dan menyusui. Jika mempunyai suatu penyakit, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter. (N)

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found