logo web baru

BROWSING: Pengalamanku

Gagal Ginjal

17 Mar 2017 0 comment

Penyakit gagal ginjal sempat memupuskan harapan hidup saya. Tapi sejak mengubah cara hidup dan pola makan, gairah itu tersulut dan berkobar kembali.

Saya percaya, Tuhan menyayangi hamba-Nya melalui banyak cara. Pada saya, Tuhan menegur ”agak keras”, dengan membuat ginjal saya sempat tak berfungsi. Kalau mau bercermin, dulu saya memang bandel; jarang beribadah, tidak pernah bersyukur, dan makan sembarangan. Makanan ala restoran fast food, mi instan, minuman bersoda, dan minuman berenergi menjadi santapan saya setiap hari. Dalam kamus saya, tidak ada istilah menjaga kesehatan. Yang terpikir hanya bagaimana menjalani hidup dengan bersenang-senang.

Menderita gagal ginjal di usia yang masih muda (31 tahun) menjadi titik balik saya dalam menjalani kehidupan baru. Kini saya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, serta mensyukuri hidup dengan cara menjaga kesehatan dan mengisi hari-hari saya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.

Awalnya hanya mual

Seingat saya, saya tidak pernah merasakan gejala khas gangguan ginjal seperti pegal-pegal atau nyeri di daerah pinggang. Kalau diingat-ingat lagi, satu-satunya keluhan yang sering mampir adalah sakit kepala, karena sejak dulu tekanan darah saya memang cenderung tinggi (sistolik berkisar antara 130 hingga 150 mg/dl). Itu pun tidak sulit diatasi. Saya sudah biasa minum obat antihipertensi. Kalau sakit kepala, saya cukup membeli obat-obatan antinyeri di warung. Dan saat merasa meriang, tinggal ditambah ramuan anti masuk angin.

Namun sekitar akhir tahun 2007 yang lalu, keluhan saya bertambah satu lagi. Saya sering mual. Pada suatu siang, saat sedang bekerja menunggui galeri lukisan milik Papa, rasa mual tersebut tidak bisa ditahan lagi. Saya muntah sejadi-jadinya.

Karena mengira itu gejala masuk angin, saya segera minum ramuan anti masuk angin, minta dikerik Mama, lalu tidur. Hingga keesokan harinya, keadaan saya belum juga membaik sehingga dibawa ke dokter. Dokter menduga saya menderita maag dan menuliskan resep sejumlah obat untuk ditebus.

Obat antimaag sudah habis. Tapi yang mengherankan, saya masih saja mual dan muntah. Mama memutuskan membawa saya ke dokter yang berbeda. Anehnya, dokter yang kedua mengatakan saya hanya stres. ”Dengan sejumlah obat dan istirahat, nanti akan membaik dengan sendirinya,” begitu katanya. Saya kembali mengkonsumsi obat. Tapi hingga beberapa hari, tetap tak ada tanda-tanda perbaikan. Pasti ada yang tidak beres, pikir saya. Akhirnya, masih dengan ditemani Mama saya berkunjung ke dokter yang berbeda (lagi!).

Di sana, saya menceritakan semua gejala dan keluhan yang saya rasakan. Ia mendengarkan cerita saya dengan seksama. Tak lama kemudian, dokter yang ketiga ini meminta saya menjalani tes urine di laboratorium dan melakukan foto ginjal, saat itu juga. Rupanya, ia mencurigai ginjal saya bermasalah.
    
Saya divonis gagal ginjal

Ternyata, kecurigaan dokter itu benar-benar terbukti. Hasil tes laboratorium menunjukkan kadar ureum saya mencapai 182 mg/dl (standar normal 13-43 mg/dl). Begitu juga dengan kreatininnya, membubung sampai 14 mg/dl (standar normal  0,7-1,2 mg/dl).

Masih belum puas, dokter meminta saya menjalani rontgen. Hasil fotonya sangat mengerikan. Hampir seluruh bagian ginjal saya diselimuti warna putih, tanda sudah keracunan. ”Fungsi ginjal kamu tinggal 18%. Jadi harus dirawat di rumah sakit dan menjalani cuci darah,” tutur dokter. Mendengarnya, saya hanya bisa tertunduk layu. Masa depan terasa begitu kelabu.

Sudah terbayang bagaimana tidak nyamannya menginap di rumah sakit, meski ”hanya” dua minggu. Terlebih dokter juga memberi saya banyak pantangan. Saya tidak diizinkan makan semua jenis sayur dan buah. Dokter khawatir, mengkonsumsi sayur dan buah dapat membuat ginjal saya bekerja lebih berat. Buat saya yang dasarnya ”omnivora” (pemangsa segala makanan), itu tak jadi masalah. Saya masih bisa makan makanan yang lain. Namun yang paling berat, air putih pun dibatasi paling banyak 2 gelas dalam sehari! Menurut dokter, saya tidak boleh minum terlalu banyak untuk menghindari bengkak dan sesak napas (karena paru-paru terendam air).

Proses cuci darah pun mulai saya jalani. Dua kali dalam seminggu, saya mencoba ”menikmati” bagaimana darah saya dialirkan melalui selang kecil ke mesin pencuci (dializer). Sayangnya, itu sulit sekali. Biasanya, saat proses cuci darah baru berjalan separuh proses (totalnya 5 jam), kepala saya sudah sakit luar biasa. Keringat dingin mengucur deras, sekujur tubuh juga pegal-pegal dan lemas.

Dalam keadaan seperti itu, pantang minum air putih membuat saya benar-benar tersiksa. Apalagi, dokter juga menyarankan saya banyak mengkonsumsi daging merah, untuk menyuplai hemoglobin yang berkurang karena cuci darah. Bayangkan, banyak makan daging, tapi tidak boleh minum!!! Dari hari ke hari, saya merasa tubuh saya justru semakin lemah...
    
Memundurkan jadwal

”Benarkah sekarang hidup saya benar-benar tergantung pada cuci darah?” ”Apakah vonis dokter itu benar-benar sudah tidak bisa ditawar lagi?”

”Adakah cara lain yang bisa membuat saya sembuh?”

Seperti gasing, pertanyan-pertanyaan semacam itu terus berputar-putar memenuhi kepala.  Baru tiga bulan hidup dengan cuci darah, rasanya saya sudah tidak kuat lagi. Apalagi, berat badan saya juga turun drastis selama sakit, dari 115 kg menjadi 80 kg. Dengan tinggi 170 cm dan perawakan tulang yang besar, pipi saya tampak cekung dan kurus sekali. Jiwa saya pun gelisah. Terlintas rasa ingin tahu apakah tubuh saya benar-benar tidak bisa lagi hidup tanpa cuci darah. Sejak saat itu, saya pun berontak!

2 foto pengalamanku

Pada awalnya, saya hanya ingin tahu bagaimana respon tubuh jika tidak cuci darah. Meskipun ditentang habis-habisan oleh Mama dan keluarga, saya berinisiatif memundurkan jadwal cuci darah yang sudah ditetapkan dokter; yang seharusnya tiga hari sekali menjadi empat hari sekali, seminggu sekali, bahkan pernah dua minggu sekali. Ternyata... saya masih bisa hidup! Sesak napas atau bengkak-bengkak di tubuh yang dikhawatirkan oleh banyak orang juga tidak terjadi.

Menyadari hal tersebut, gairah yang tadinya sempat pupus pun terpercik kembali. Meskipun tak henti-hentinya mengingatkan saya untuk mengikuti jadwal cuci darah dari dokter, saya yakin Mama, keluarga, dan teman-teman dekat saya juga mulai melihat harapan baru; saya masih bisa sembuh tanpa cuci darah.

Dua sahabat saya, Hendro dan Sri, semakin bersemangat mencari informasi mengenai penyakit gagal ginjal yang saya derita. Mereka tak segan-segan bertanya kepada setiap dokter yang dikenalnya. Begitu juga dengan anggota keluarga dan sanak saudara, sibuk mencari cara yang mungkin dapat menyembuhkan penyakit saya.

Menjadi vegetarian

Pada suatu hari, kakak ipar Mama memberitahu tentang Dokter Anton, yang dikenal juga menerapi pasiennya dengan cara alami. ”Apa salahnya kita coba?” kata Mama. Tanpa membuang waktu lagi, kami pun mendaftar dan berkunjung ke sana.

Pada dokter Anton, saya menceritakan seluruh riwayat kesehatan, gejala, dan keluhan, hingga pantangan-pantangan yang saya jalani dari dokter sebelumnya. Mendengar saya terbiasa minum obat antihipertensi, Dokter Anton geleng-geleng kepala. ”Hipertensi yang kamu derita sudah menjadi indikasi ginjal kamu terganggu, tapi obat antihipertensi bukanlah solusi,” katanya.  Dokter Anton menambahkan, kalau ginjal saya sudah berfungsi dengan baik, tekanan darah saya akan normal dengan sendirinya. ”Caranya ya.. dengan menjadi vegetarian! Kamu tidak boleh makan daging, harus banyak mengkonsumsi sayur dan buah, juga air putih” tuturnya. Kening saya langsung berkerut. Apa tidak salah? Sarannya sungguh berlawanan dengan saran dokter-dokter sebelumnya!

Melihat keterkejutan saya, Dokter Anton menjelaskan alasannya. Saat fungsi ginjal sedang ”sekarat”, seharusnya saya tidak membebani kerjanya dengan mengkonsumsi makanan yang sulit dicerna seperti daging merah, melainkan banyak mengkonsumsi sayur dan buah. Menurutnya, sayur-sayuran dan buah-buahan – apalagi jika dikonsumsi dalam keadaan segar - merupakan makanan yang kaya enzim dan mudah dicerna, sehingga tidak membebani ginjal. Saya juga harus banyak minum air putih, agar racun (ureum) yang berada di dalam ginjal menjadi lebih encer dan lebih mudah dikeluarkan dari tubuh. Dengan cara ini, tubuh akan ”mencuci darah” dengan kemampuannya sendiri.
”Lalu bagaimana dengan kebutuhan hemoglobin saya, Dok?”, tanya saya. Dokter Anton menganjurkan saya mengkonsumsi telur. Ia juga memberi saya suplemen herba, yang mempunyai khasiat sama dengan daging merah. Mendengar penjelasannya yang cukup masuk akal, saya mengangguk mantap. Saat itu juga, saya menjadi seorang vegetarian.

Kiat bebas dari cuci darah

Layaknya vegetarian yang lain, makanan utama saya adalah sayur-sayuran dan buah-buahan. Namun karena ingin lebih sehat, saya juga menganut diet golongan darah. Sesuai dengan diet golongan darah O, sayuran yang saya konsumsi setiap hari antara lain brokoli, lobak, wortel, tomat, baby kailan, pak coy, dan sawi. Kebutuhan protein dipenuhi dari telur, karena saya tidak mengkonsumsi produk kedelai dan susu. Kalau ingin ngemil, saya makan buah-buahan seperti mangga, pisang, dan jambu biji. Setiap hari, saya rutin mengkonsumsi segelas jus sirsak.  Selain baik untuk golongan darah O, sirsak juga berkhasiat untuk membersihkan liver.

Berdasarkan anjuran temannya, Mama membuatkan rebusan tempuyung (Sonchus arvensis) untuk membantu menguatkan ginjal. Cara membuatnya cukup mudah; segenggam tempuyung kering dicuci bersih, kemudian direbus dalam 2 gelas air dengan api kecil. Diamkan hingga airnya tersisa 1 gelas. Matikan api, dinginkan, airnya disaring, kemudian diminum saat pagi atau sore hari.

Sejak menjadi vegetarian dan rutin minum rebusan tempuyung, tubuh saya terasa jauh lebih segar dan ringan. Dulu,  untuk berjalan beberapa meter saja saya sudah terengah-engah. Namun sekarang, rute Otista – Tebet Raya (lokasi rumahnya ke galeri lukisan, Red) yang jaraknya sekitar 3 kilometer, bisa saya selesaikan dengan mudah. Tubuh saya yang sempat terlalu kurus, kini terasa segar lagi dengan berat 85 kg.

Yang tak kalah menakjubkan, dari hari ke hari, hasil tes laboratorium menunjukkan kadar ureum dan kreatinin terus mendekati normal. Bahkan karena kadar ureum sudah di bawah 100 mg/dl, sekarang saya tidak perlu menjalani cuci darah lagi. Selain itu, tanpa mengkonsumsi obat antihipertensi, tekanan darah saya pun tetap stabil normal. Oh, senangnya...

Menjadi manusia ”baru”

Tiga bulan sudah, saya hidup tanpa cuci darah. Kini saya baru menyadari, kesehatan itu jauh lebih menyenangkan daripada sekadar memanjakan lidah. Tentu saja, saya akan menjaga kesehatan yang sudah ”dikembalikan” oleh Tuhan ini dengan jauh lebih baik.

Mungkin, dengan cara inilah saya bisa menebus kesalahan saya di masa lalu; kurang berbakti kepada orangtua, hidup seenaknya, jarang beribadah, apalagi pergi ke gereja. Dipandu pendeta, sekarang saya sering lebih taat beribadah. Di rumah dan di gereja, kami juga mendoakan orang lain yang sedang sakit, agar segera mendapatkan pencerahan. Bukankah sebenarnya, dalam keadaan seperti apa pun Tuhan selalu memberi pertolongan? Tinggal bagaimana usaha dan kepekaan kita saja untuk memaknainya.

Saya berterimakasih karena Tuhan telah menolong saya, meski dengan cara yang ”cukup keras”. Saya yakin, inilah cara Tuhan memberi kesempatan agar saya menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih, Tuhan...

 

Menurut Mayor Laut (K) Dr Anton Budiono, MS, M Farm
Dokter, ahli herba dan akupunktur
“Pasien gagal ginjal masih punya harapan”

Secara medis, fungsi ginjal Hendra memang “tinggal” 18%. Artinya, yang rusak sebanyak 82%. Namun keadaan ini masih bisa diperbaiki dengan cara menjaga yang 18% itu tadi. Prinsip pengobatan yang saya lakukan untuk Hendra mirip menumbuhkan kembali tanaman yang mengering; asal diberi makanan dan diperlakukan dengan tepat, pasti bisa tumbuh subur lagi. Sebab, sel-sel di dalam tubuh kita memiliki kemampuan beregenerasi yang menakjubkan.

Untuk menyelamatkan ginjalnya, Hendra harus mengkonsumsi makanan yang mudah dicerna, seperti sayuran dan buah-buahan. Ia juga harus menggelontor racun (ureum) yang tersisa di ginjalnya dengan banyak minum air putih. Sebaliknya, Hendra harus menghindari daging merah karena sisa metabolisme daging berupa ureum inilah yang membebani fungsi ginjal. Memang benar, daging merah dapat meningkatkan hemoglobin dengan cepat. Namun melihat efek sampingnya, produk ini bisa diganti dari sumber lain seperti telur, dan suplemen herba yang lebih aman bagi ginjal misalnya jenis-jenis jamur.

Dalam sistem pengobatan Tradisional Chinese Medicine (TCM), gangguan fungsi ginjal prinsipnya bersumber dari beban pikiran yang berlebihan. Oleh sebab itu, ketika Hendra sudah memperbaiki pola makan, pola hidup, dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, sebenarnya ia sudah mengobati dirinya sendiri.

Bagaimanapun, suatu pengobatan memang harus dilakukan secara terpadu. Dengan menjalani pola makan yang baik, pola hidup yang teratur, stress management, dan mendapat dukungan mental dari keluarga, saya yakin dalam waktu enam bulan ke depan Hendra sudah bisa sembuh total dari gagal ginjal. (N)
  

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found