logo web baru

BROWSING: Pengalamanku

Amy Prasetyoadi

15 Jan 2018 0 comment

"Pola makan Food Combining melipatgandakan energi saya"
Banyak teman  sesama atlet heran, pada umur hampir setengah abad saya masih bisa  bertahan sebagai atlet nasional, bahkan bertanding melawan atlet-atlet muda. Banyak orang penasaran, bagaimana pola makan saya

"Nggak ada matinya" begitu komentar rekan instruktur senam di studio senam dan yoga yang saya kelola di Batam. Mereka terkesan pada stamina saya. Pada umur menjelang 48 tahun Oktober nanti saya masih mampu mengajar 3 kelas (aerobik, yoga, pilates) dalam sehari, masing-masing kelas berlangsung selama 75 menit, berturut-turut 5 hari dalam seminggu.

Hingga bulan Desember 2009 lalu, saya masih ikut bertanding di arena Kejuaraan Softbal antar klub se-Indonesia. Di arena pertandingan yang berlangsung di Senayan, Jakarta, ketika itu saya termasuk atlet berusia tua di antara atlet-atlet yang bahkan ada yang umurnya separuh umur saya. Sebenarnya saya juga dipanggil untuk terjun di Asean Softball Championship di Jakarta akhir Juli nanti. Namun saya mengundurkan diri karena pemusatan latihan (training center) yang dilakukan di Jakarta akan berlangsung selama satu bulan. Ditambah dengan keikutsertaan di Asean Softball Championship, rasanya t idak enak hati meninggalkan keluarga terlalu lama.

Resep sehat-kuat saya bukan rahasia lagi, karena sudah lebih dari 10 tahun saya mengatur pola makan berdasar Food Combining  (FC) dan saya sudah menularkannya kepada para kenalan.

Berawal  dari buku Fit for Life
Bergerak dengan ringan dan selalu bertenaga, itulah manfaat yang paling besar mengikuti pola makan FC; sebuah tuntunan cara hidup sehat yang pada awalnya saya pahami sebagai cara makan sehat. Selain itu,  keluhan flu yang sebelumnya menjadi langganan saya setiap bulan, rontok dengan sendirinya. Sedang kulit wajah saya yang sempat terbakar sinar matahari menjadi cling kembali.
Saya tidak  menduga bahwa manfaat yang akan saya dapat sedemikian besarnya. Tentu saja berkah yang saya peroleh ini tidak jatuh begitu saja dari langit.

Berawal saat saya sekolah di SMAN I Manado. Saat itu Oma sakit diabetes dan dirawat di rumah sakit. Sebagai anak pertama dari 5 bersaudara saya mendapat tugas mengantarkan makanan untuk Oma. Ahli gizi di kota Manado masih langka, sehingga ibu saya (seorang dosen bahasa Inggris) harus menyediakan makanan dari rumah untuk Oma.

Melihat pasien-pasien yang terbaring di rumah sakit, muncul kesadaran saya untuk bisa hidup sehat. Ditambah kenyataan bahwa Oma dari garis Papa (termasuk Papa) juga menderita diabetes. Jadi saya harus mewaspadai ancaman penyakit ini.

Cita-cita saya masuk Akademi Gizi di Jakarta gagal karena kesalahan administrasi semata. Sebagai gantinya saya kemudian kuliah di Fakultas  Ilmu Pendidikan, Jurusan  Olahraga & Kesehatan, mengikuti ibu yang sedang meneruskan kuliah di  IKIP  Malang, Jawa Timur.

Sejak kuliah saya sering menderita flu (mungkin semacam alergi) yang meski sembuh dengan minum obat-obatan, flu tersebut datang dan datang lagi. Dari ibulah –yang terusik oleh gangguan flu ini- saya belajar soal kesehatan.. Bersama ibu yang membantu  menterjemahkan isi buku Fit for Life, kami berdua mempelajari buku karya Harvey & Marilyn Diamond tersebut. Buku ini mengajarkan panduan hidup sehat secara mandiri, termasuk prinsip pola makan sehat yang kemudian berkembang menjadi FC.  Tahun l999, saat mendapat info akan digelar seminar tentang FC, saya mendaftarkan ikut seminar ke Jakarta.

Pelanggan obat flu
Saya terkesan sekali pada kesaksian beberapa orang dalam seminar yang dibawakan oleh Andang Gunawan, seorang terapis nutrisi yang  telah  mendalami masalah FC (dan kemudian menerbitkan buku tentang FC). Salah satu orang menceritakan kesembuhannya dari flu berat. Maklum, saya juga mengalami gejala yang sama.

Berbeda dengan pemahaman saya tentang ilmu kesehatan sebelumnya, pola makan FC ini bisa menyehatkan dengan cara mengembalikan kemampuan tubuh sesuai kodratnya untuk menyembuhkan diri sendiri (self healing) bukan.penyembuhan dengan cara menghilangkan gejala penyakit seperti yang selalu saya lakukan dengan minum obat-obat  flu.

Informasi penting yang baru saya dapat ini menyadarkan saya bahwa saya telah meremehkan kemampuan tubuh untuk menyembuhkan diri dengan  menggantungkan kesehatan saya pada obat-obatan.
Satu hal lagi yang baru saya pahami adalah bahwa gejala flu yang sering saya alami itu bukan sesuatu yang wajar meski banyak orang mengalami gejala tersebut. Pilek, bersin, demam, dan batuk yang sudah menjadi bagian hidup sehari-hari ini sebenarnya tanda atau alarm bahwa sistem dalam badan saya ada yang error. Rupanya aktivitas saya giat berolahraga belum bisa menjamin kesehatan saya.

Saya berniat menularkan ilmu pengetahuan baru ini kepada keluarga serta teman-teman dekat. Saya lalu mengundang Andang Gunawan berceramah di kota Malang. Syukur sekali suami saya sangat  mendukung langkah saya dalam mengejar kesehatan. Seminar FC kami (saya dan suami bertindak sebagai penyelenggara) gelar di Malang tahun 2000. Tamu yang saya perkirakan  75-an ternyata luber hingga 200 orang. Sebuah awal yang menggugah semangat.  

Menularkan cara makan  FC
Selain aktif berlatih softball (bergabung dalam klub), sejak  kuliah saya mengajar senam di studio Bugar, di Malang. Di lapangan softball saya diandalkan sebagai  pitcher (pelempar bola), posisi yang lumayan menguras energi. Sudah 5 kali saya terjun di arena  PON, ajang olahraga nasional yang digelar 4 tahun sekali. Sementara itu sebagai guru senam saya juga bisa diterima masyarakat, sehingga studio saya semakin besar.

2 foto pengalamanku

Tidak seperti guru-guru senam yang lain, selain mengajarkan senam, saya berusaha menyampaikan pola makan sehat kepada para peserta kelas senam saya. Bukan menjelaskan panjang lebar soal teori (biasanya saya anjurkan mereka membaca bukunya) namun dengan contoh langsung melalui  aktivitas saya sehari-hari, misalnya banyak makan buah segar dan jus setelah mengajar, tidak ngemil jajanan, tidak mengonsumsi makanan kalengan lagi, begitu juga soft drink yang saat itu sangat digemari anak-anak muda.

Saat bertanding di lapangan softball saya mengandalkan  buah-buahan segar sebagai sumber tenaga, bukan makanan berat berkarbohidrat tinggi, misalnyai nasi, roti, mi yang membuat tubuh saya berat bergerak dan lemas. Yang sangat mengesankan, ketergantungan saya pada obat-obat flu berhenti setelah sekitar sebulan mengikuti pola makan FC. Flu tidak kambuh lagi. Tentu menjadi berita bagus dari sharing saya kepada teman-teman, karena banyak dari mereka yang mengalami hal yang sama.

Makin lengkap dengan yoga
Sebuah kecelakaan di lapangan softball mempertemukan saya dengan yoga. Hantaman bola pada mata kanan mengganggu jaringan syaraf di sekitarnya sehingga mata selalu berkedip-kedip tanpa bisa saya kendalikan. Lebih dari 3 tahun saya berobat ke dokter dan menjalani serangkaian fisioterapi, namun hasilnya belum terlihat juga. Sampai saya bertemu Bapak Budi Hariyadi, seorang guru prana (tenaga dalam) di kota saya.

Guru Prana dari Pranayana ini mengajarkan latihan jurus-jurus dasar pernapasan dan yoga. Latihan intensif selama sekitar 2 bulan ternyata berhasil menormalkan mata saya. Kejadian ini mengantar saya untuk memperdalam yoga ke berbagai tempat, termasuk mengikuti workshop yoga yang digelar oleh guru-guru dari manca negara.

Berkah lain yang saya dapat dari pola makan ini adalah rontoknya vlek-vlek di wajah akibat terbakar sinar matahari karena aktivitas saya bermain softball. Sudah berbagai cara saya lakukan untuk mengikisnya,.Tidak sedikit pula uang yang saya keluarkan  untuk perawatan di salon-salon kecantikan, namun tetap saja noda cokelat menyerupai kupu-kupu tak bergeming dari kedua pipi saya. Rasanya saat itu saya sudah kehabisan akal menghadapi vlek wajah ini, karena upaya apa pun yang saya lakukan tidak juga membuahkan hasil.Tanpa saya sadari, setelah mengikuti cara makan  FC ini sekitar 5 tahun, sedikit demi sedikit noda tersebut mulai menipis.

Syukurlah  bahwa dalam upaya menyehatkan diri ini kami sekeluarga bisa kompak, Mas Prasetyoadi (suami) sangat  tertib mengikuti pola makan FC. Begitu juga anak kami, Pramuda Wardani (17 tahun). Saya terharu sekali melihat usahanya membatasi konsumsi junk food, soft drink, dan memperbanyak makan sayur.
Kini  sudah sekitar 11 tahun  pola makan FC menjadi cara hidup kami sehari-hari. Rasanya pola makan ini sudah berjalan secara otomatis, sudah terpola dalam kehidupan kami.

Kami sarapan hanya buah dan yogurt, cenderung mengurangi konsumsi karbohidrat tinggi (nasi, mi, roti, pasta, kue dari bahan tepung terigu, gula), dan memperbanyak makan sayur dan buah segar.  Sumber protein pilihan kami lebih banyak ikan dan protein nabati misalnya kacang-kacangan, susu kedelai. Bekal suami ke kantor pun selalu buah potong.

Bukan sebatas itu, bahkan dalam laptop kerjanya  tersimpan beberapa bahan presentasi konsep  FC. Seperti saya, rupanya dia selalu berusaha sharing manfaat FC kepada rekan-rekan kerjanya .

FC meningkatkan imunitas
Sudah  9 tahun saya sekeluarga pindah ke Batam mengikuti suami, Di tempat baru ini aktivitas mengajar senam dan yoga serta bermain softball masih berlanjut. Saya mengelola studio senam dan yoga, Rits Studio, dan membuka kelas aerobik, yoga, pilates dan olah tubuh tren baru seperti kick-box.

Saya mengajar bersama beberapa instruktur lain yang umumnya jauh lebih muda. Sebagaimana telah saya katakana, tiap hari saya mengajar 3 kelas (aerobik, yoga, pilates), selama 5 hari dalam seminggu. Sabtu dan Minggu buat saya adalah waktu istirahat mengajar, tapi saya selalu menyempatkan untuk tetap berlatih pernapasan selama 15 menit.

3 foto pengalamnku

Sesekali saya juga melakukan detoksifikasi, hanya dengan konsumsi satu jenis buah seharian. Cara ini selalu saya lakukan sebelum tampil memimpin lomba aerobik atau yoga, karena efeknya pada saya bisa mengempiskan perut secara cepat.

Sebaliknya, jika akan bertanding softball, untuk memompa kekuatan, saya menambah berat badan sampai 2 kg (selama 10 tahun ini berat badan saya stabil, 55 kg). Caranya dengan tidur siang dan latihan beban, selama 3-4 hari sebelum turun ke lapangan pertandingan. Dengan cara ini, otot saya membesar dan lebih kuat.
Bersyukur juga saya punya bekal yoga  yang dalam kehidupan sehari-hari mampu  membantu saya mengendalikan diri dan tetap konsisten pada pola makan yang saya yakini ini. Manfaat FC yang lain, saya bisa mengatur berat badan dengan mudah, mungkin karena respon sistem metabolisme saya terpelihara dengan baik. Ini semua bisa terjadi jika organ-organ tubuh masih berfungsi dengan baik pula.

Bukan berarti saya sudah terbebas dari berbagai masalah kehidupan. Setiap hari saya juga bergulat dengan berbagai persoalan. Syukur, selama ini saya bisa melewatinya dengan tenang. Bukannya saya kebal, tetapi seberapa berat stres fisik dan mental yang harus saya tanggung, daya tahan tubuh saya mampu menanggulanginya karena selalu berlimpah persediaan energi.

Bekal utama saya, sampai kini, tetap ber-FC. Karena pola makan ini mampu menjamin pasokan energi saya selalu cukup. Yang lebih penting bagi saya dalam menjaga kesehatan bukan sekadar apa yang kita makan, tetapi konsistensi dan cara kita mengkonsumsinya. (N)

 

Efisiensi energi lewat Food Combining
Andang Gunawan, ND, ahli Terapi Nutrisi & Food Combining

Setiap aktivitas tubuh memerlukan energi. Pencernaan memerlukan energi yang besar. Namun demikian alam sudah mengatur sistem dalam tubuh agar beraktivitas secara harmoni, sehingga masing-masing sistem beserta organ pendukungnya mendapat pasokan energi yang cukup.

Jam biologis tubuh secara otomatis telah mengatur organ-organ  yang meski bekerja selama 24 jam penuh, hanya bekerja intensif pada waktu-waktu tertentu; pada dini hari sampai tengah hari adalah saat intensif untuk pembuangan,sedangkan tengah hari hingga sore organ pencernaan berkonsentrasi untuk memecah makanan; sementara pada malam hari untuk penyerapan dan asimilasi. Pemahaman inilah yang menjadi salah satu pilar pola makan Food Combining, yaitu mengatur pasokan makanan sesuai jam biologis organ pencernaan.

Bisa dibayangkan jika pola makan kita amburadul, misalnya saat sistem pencernaan sedang beristirahat organ cerna kita masih aktif bekerja atau sebaliknya. Jika perilaku  buruk ini  berlangsung terus menerus, akan  terjadi penjungkirbalikan jam biologis tubuh. Tubuh akan menggunakan energinya untuk hal-hal yang tidak penting, bahkan bisa-bisa  tubuh mengalami tekor  (defisit, artinya asupan tidak sebanding dengan kebutuhan) energi. Jika tubuh kekurangan stok energi, efeknya ibarat mobil kehabisan bensin.

FC bukan semata-mata pola makan untuk menambah energi berlipat-lipat . Pola makan ini hanya akan membantu tubuh menggunakan energinya secara efisien. Ditambah pemilihan kualitas makanan yang tidak memberatkan sistem pencernaan, stok energi akan terjamin secara cukup. Efeknya, tubuh mendetoks toksin dengan lancar sekaligus meregenerasi sel dengan baik sehingga tubuh terlihat sehat dan awet muda.
Semua ‘obat’ sebenarnya sudah ada di dalam badan kita, antara lain bersumber dari makanan sehat  yang kita makan seperti sayur dan buah segar. Cara hidup sehat FC hanyalah sebagai cara untuk memberdayakan penyembuhan oleh tubuh sendiri. (N)

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found