logo web baru

BROWSING: Psikologi

8 Anggapan Keliru tentang Menjadi Orangtua

13 Jun 2017 0 comment

Menjadi orangtua adalah sebuah peran yang dilakoni oleh kebanyakan orang dewasa setelah menikah. Tanggung jawab ini tidak boleh dianggap enteng karena masa depan seorang manusia baru, berada di tangan kita. Tugas ini terasa semakin sulit karena tak pernah ada sekolah yang mengajarkan ilmu menjadi orangtua.

Akibatnya, kita mudah terjebak pada anggapan-anggapan salah tentang seorang anak, yang membuat kita menjalankan peran sebagai orangtua dengan cara yang kurang tepat. Bagaimana dengan Anda? Sudah tepatkah pemahaman Anda sebagai orangtua?

1. Anak adalah "harta" Anda dan "hadiah" dari Tuhan
Bukankah kita sering mendengar orangtua mengatakan bahwa anak adalah anugerah dari Tuhan? Anggapan semacam ini, meskipun benar, ternyata sering membawa orangtua pada tindakan-tindakan yang salah dalam mengarahkan anaknya, terutama jika orangtua mengartikan anugerah sebagai harta milik.

Brian Tracy, penulis buku Raising Super Kids mengingatkan, Anak bukanlah milik kita. Mereka punya hak atas dirinya sendiri. Karena itu, menurut Tracy, anggapan bahwa anak adalah anugerah dari Tuhan semestinya dilengkapi dengan, "Anak adalah hadiah spesial dari Tuhan yang bersifat sementara."

2. Kita harus mencintai anak lebih dari diri sendiri
Mencintai anak pastilah sudah menjadi prioritas pertama  yang harus dilakukan para orangtua sejak bangun tidur sampai waktu tidur lagi. Tapi, menurut Tracy, untuk menjadi orangtua yang hebat, mereka justru harus mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu.

Tracy kembali menegaskan, "Orangtua dengan harga diri yang rendah dan tak bisa mencintai diri sendiri tidak akan mampu memberikan cinta kepada anaknya melebihi cinta untuk dirinya sendiri.".

Beberapa cara yang diusulkan oleh C. Rainfields, dalam artikelnya yang berjudul "How to Love Yourself", adalah dengan mencari tahu hal-hal baik yang disukai orang lain tentang diri Anda, menyempatkan diri untuk memuji diri sendiri setiap hari, memperlakukan diri sendiri sebagai teman, dan melakukan hal-hal yang membuat kita merasa senang dan nyaman.

3. Berikan cinta sebanyak-banyaknya
Meski tugas utama orangtua adalah untuk memberikan cinta, Ariesandi Setyono, penulis buku Hypnoparenting, mengingatkan kita untuk tidak memberikan cinta secara berlebihan. "Memakai kasih sayang sebagai alasan malah membuat orangtua terjebak dalam tindakan memberi secara berlebihan dan tidak pada tempatnya," kata Ariesandi.  Kondisi ini, menurutnya, akibat pengalaman masa lalu orangtua yang dijadikan tolok ukur. "Karena dulu orangtua tidak bisa memiliki apa yang diinginkan, maka sekarang orangtua berusaha memenuhi semua keinginan anaknya," kata Ariesandi.

Sebaliknya, kebutuhan cinta yang tidak terpenuhi pada anak, juga akan mempengaruhi kesehatan emosional dan fisiknya, karena kebutuhan anak akan cinta sama seperti bunga dan daun yang membutuhkan air untuk tumbuh. Karena itu, diingatkan oleh Tracy, "Yakinkan anak Anda bahwa cinta 100% Anda untuknya tak akan pernah berkurang, tanpa syarat, dan tak peduli apa yang terjadi."

2 foto psikologi

4. Yang terpenting, semua kebutuhan anak terpenuhi
Sebagai orangtua, kita memang dituntut untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari diri kita dan keluarga, termasuk anak. Sayangnya, orangtua seringkali terlalu sibuk  mencari uang – tentu saja untuk kebahagiaan anak-anak – sehingga melupakan kebutuhan anak yang lain, yaitu kebersamaan.

Tak sekadar agar anak merasakan kasih sayang orangtua ketika bersama anak-anak, menurut Prof Dr dr Dadang Hawari ternyata juga memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar realitas sehari-hari. "Anak bisa belajar bagaimana sesuatu itu diraba, dilihat, didengar, dicium, dan dirasa langsung dari orangtuanya," kata Hawari dalam bukunya yang berjudul Our Children Our Future – Dimensi Psikoreligi pada Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Ditambahkannya, pengalaman sehari-hari itu merupakan pilar untuk pengembangan kecerdasan emosional dan intelektual anak.

5. Jangan pernah membuat anak kecewa
Selalu memberikan apa yang diminta oleh anak, untuk menjaga hati anak agar tidak kecewa juga bukan sikap yang tepat, kata Hawari. "Anak yang selalu dituruti keinginannya tidak akan pernah merasakan penolakan sehingga akan bermasalah dalam kehidupan bersosialnya kelak," jelasnya. "Belajar menerima kata 'tidak' akan melatih anak untuk mampu mengendalikan diri dalam menghadapi orang-orang atau hal-hal yang mengecewakan".

6. Menjadikannya yang terbaik (menurut kita)
Kita semua pasti ingin menjadikan anak kita yang terbaik – tentu saja dengan standar orangtua – entah dalam prestasi sekolah, perilakunya, bahkan mungkin cita-citanya. Sayangnya, keinginan ini justru bisa membawa kita ke arah yang salah dalam mendidik dan membesarkan anak, jika kita mengarahkannya seperti keinginan kita.

Padahal, menurut Tracy, ketika kita bisa menghargai kekhasan dan keistimewaan setiap anak, ia akan berkembang sesuai dengan potensinya serta mencapai prestasi lebih baik melampaui harapan kita. Tapi, jika Anda mencoba membentuk dan mengarahkan anak Anda menjadi sesuatu yang bukan dirinya, potensinya untuk berkembang justru akan meredup dan layu.

Hal ini juga diungkapkan oleh Ariesandi dalam buku Hypnoparenting – Menjadi Orangtua Efektif dengan Hipnosis. "Masyarakat sering menilai keberhasilan kita sebagai orangtua dari keberhasilan mendidik anak-anak kita. Demi memenuhi tuntutan masyarakat itu, kita terkadang mengorbankan, mengabaikan, dan melalaikan keinginan dan hak anak untuk menentukan pilihannya sendiri secara bebas," katanya.

7. Kita harus membuat anak jadi pintar
Dikatakan oleh Jarot Wijanarko, seorang praktisi pendidikan anak usia dini, membuat anak menjadi pandai di masa sekarang sangatlah mudah. "Pemenuhan gizi, lingkungan belajar yang kondusif, kurikulum yang makin baik, dan aneka les, semua lengkap tersedia," katanya.

Tapi, ditambahkan Wijanarko, menjadikan anak pandai saja tidak cukup; yang dibutuhkan adalah membentuk anak yang berkarakter positif. "Menjadikan anak mandiri, bertanggung jawab, penuh perhatian kepada orang lain, jujur, memiliki integritas, dan tujuan jelas untuk mencapai sukses tidaklah mudah. Dan itulah peran terbesar dari orangtua," tegas pemilik jaringan sekolah Happy Holy Kids ini.

8. Menjadikan anak sebagai sumber kebanggaan orangtua
Orangtua mana yang tak bangga ketika anaknya mendapat pujian dari orang-orang di sekelilingnya? Pasti tak ada. Tapi, Anda harus hati-hati, karena sikap bangga pada anak pun bisa menyesatkan Anda, dan membuat Anda terobsesi untuk menjadikan anak Anda sebagai sarana guna mendapatkan rasa bangga.

Padahal, menurut Tracy, orangtua perlu memahami bahwa tanggung jawab paling utama yang diembannya adalah membangun rasa percaya diri serta penghargaan terhadap diri sendiri dalam diri anak.
Jadi, apa tandanya bahwa Anda telah sukses menjadi  orangtua? "Jika anak Anda merasa dirinya luar biasa!", tegas Tracy.

Sikap yang perlu dimiliki orangtua
Jika sebagian besar anggapan Anda sebagai orangtua selama ini ternyata belum tepat, jangan berkecil hati. Justru inilah saatnya untuk memperbaiki sikap Anda.  Berikut adalah saran para ahli tentang sikap yang perlu dimiliki orangtua agar sukses dalam membesarkan anak:

• Percaya dan terbuka
"Sikap terbuka dan kepercayaan dari orangtua akan menghasilkan anak yang juga terbuka terhadap orang-orang di sekitarnya dan mendorong sikap ingin tahu," kata Prof Dr dr H. Dadang Hawari, psikiater.

• Penerimaan
"Terima anak apa adanya, jangan membandingkannya dengan anak lain," tegas Jarot Wijanarko.

• Mengenali kelebihan dan kekurangan
Wijanarko juga menambahkan, "Kenali kekurangan dan kesalahannya, berikan teguran dengan bijak.  Kenali juga kelebihannya dan berikan pujian."

• Konsisten
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orangtua dalam membesarkan anak, menurut Ariesandi Setyono, adalah tidak bersikap konsisten, Salah satunya adalah tidak melakukan apa yang kita katakan pada mereka "Kita sering mengatakan pada anak untuk rajin belajar dan suka membaca buku, tapi orangtua lebih banyak menghabiskan waktu di depan TV untuk menonton sinetron. Anak jadi bingung, harus menuruti pendengaran atau penglihatan mereka," ujar Ariesandi.

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found