logo web baru

BROWSING: Sosok

Astrie Ivo

12 Jan 2017 0 comment

Membedah Al Qur’an, Anugerahnya Pencerahan

Astrie Feizaty Ivo (42 tahun), bintang film, bintang sinetron, presenter berparas ayu itu, baru saja meluncurkan buku berjudul Cantik Sepanjang Usia.

Buku dengan sampul berwarna pink itu mengulas makna cantik ditinjau dari pandangan Islam.

Akhir-akhir ini, ia sering diundang sebagai penceramah agama, baik di dalam maupun di luar negeri. Agaknya, panggilan “Ustadzah” sangat melekat pada dirinya.

“Saya mendapat pencerahan kira – kira 12 tahun yang lalu, “ ujar bintang sinetron “Rahasia Ilahiu” dan “Kusebut Nama Mu” (TPI), dan “Hidayah” (Trans TV) itu. Perubahan dalam dirinya, menurut Astri, sangat banyak. Di bidang pekerjaan misalnya, ia lebih selektif memilih sinetron yang akan dibintanginya.

“Dulu ka nasal dapat uang, main film. Sekarang tidak lagi. Sinetron yang saya pilih, harus punya nilai lebih. Ada sesuatu yang harus disampaikan kepada penonton, “kata Astri yang siang itu mengenakan baju muslim berwarna pink lembut dipadu jilbab warna senada.

Pencerahan Melalui Al Qur’an

Astrie merasa beruntung dibesarkan dalam keluarga religious. Namun , ia mengaku sebelum mendapat pencerahan,gaya ibadahnya sebatas mencari pahala. “Gaya pedagang istilahnya, “katanya. Misalnya, mau ngaji nunggu hari Jum’at, puasa nunggu bulan Ramadhan, bersedekah, nunggu hari baik bulan baik,” tuturnya. Demikian pula jika membaca Al Qur’an, ia sekedar membaca saja sampai khatam (selesai), tanpa mengerti isi kandungannya.

Kesempatan membedah isi Al Qur’an ia dapatkan ketika mengikuti kelas Tahfim (= pemahaman) di pengajian dekat rumahnya. “Adalah isi Surat An-Nisa ayat  123 yang berbunyi : “Jangan dekati shalat, sampai kamu memahami” yang menyadarkan saya pentingnya mengerti isi Al Qur’an, “ tutur Astrie.

2 foto astrie ivo sosok

Setelah itu, Astrie mempertanyakan kepada dirinya sendiri, sudah benarkah cara ia beribadah? Sudah benarkah ia berkeluarga? Sebagai muslimah, sudah benarkah cara ia berpakaian?.

“Allah Swt memerintahkan kita untuk membaca, bukan saja ayat-ayat qauliyah (Yang tersurat) tapi juga qauniyah (yang tersirat). Jadi, selain harus bisa membaca Al Qur’an, kita juga harus bisa memahami artinya, “ tegasnya.”Saya selalu memotivasi diri untuk menuntut ilmu. Dengan ilmu yang saya dapatkan, saya menemukan pencerahan seperti sekarang. Karenanya saya sangat gandrung menuntut ilmu terutama ilmu agama. Dan ternyata jika kita mempunyai informasi lebih banyak, akan lebih mudah beribadah,”katanya.

Diskusi dengan suami

Setiap pulang dari pengajian, Astrie kerap berdiskusi dengan Dariola Yusharyahya, suaminya, mengenai pelajaran yang didapatnya. Bukan sebatas penggunaan kerudung atau jilbab saja, tetapi juga cara membangun keluarga yang sakinah. “Kami canangkan kembali tentang misi hidup berkeluarga kami. Ternyata berkeluarga secara benar itu, bukan hanya mengantarkan seluruh anggota keluarga sampai ke pintu gerbang bahagia atau ke pintu gerbang wisuda, tetapi harus sampai ke pintu gerbang surge,” katanya. Lalu apa persyaratannya? “Allah Swt mengatakan baca dulu, pahami dulu, mengerti dulu ayat-ayatnya, jika sudah mengerti barulah dirikan shalat. Karena, orang yang shalat tanpa memahami apa yang dibacanya, tidakakan mencegah dia dari keji dan mungkar. Saya pikir, benar juga,”tuturnya.

Informasi yang didapatnya melalui pengkajian Al Qur’an (kelas Tahfim,Tajwid, dan Taklim), membuat Astrie semakin yakin bahwa hidup di jalan Allah, akan membawa kebaikan. “Kami punya informasi yang benar dan kami lakukan dengan benar. Jadi, bukan “katanya” atau “kata guru saya”, tetapi langsung dari sumbernya, yaitu Al Qur’an,”demikian Astrie.

Pentingnya informasi

Tujuh tahun yang lalu, setelah berdiskusi dengan suami, dan suaminya memahami bahwa pemakian kerudung atau jilbab adalah perintah Allah, Astrie mulai menutup kepalanya dengan jilbab. “Saya baru memahami bahwa kewajiban seorang muslimah bukan hanya menjalankan Rukun Iman dan Rukun Islam saja, melainkan menjalankan seluruh perintah Allah, termasuk memakai jilbab, “ujarnya.
“Kalau keinginan saya sih pakai T-shirt saja, lebih simple, sopan menurut ukuran sosial yang berlaku,” candanya.

Dulu ia berpikir, jika sudah shalat, sudah puasa, tidak menipu orang, mengerjakan hal-hal yang baik, ia sudah benar. “Tetapi itu menurut ukuran saya. Baik-benarnya, hebat-tidaknya manusia yang mengukur bukan kita, tetapi Allah Swt,” lanjutnya.

Ibarat orang yang ingin lulus ujian, ya harus belajar. Sama halnya jika kita bisa menjawab ujian-ujian yang diberikan Allah kepada kita, ya kita harus belajar, harus membaca dan memahami Al Qur’an. “Jadipergi kepengajian bukan untuk memahami bagaimana kita bisa orang yang tidak mempunyai informasi semacam itu,”kata ibu dari Kevin Arighi (13,5 th), Adrio Faresi (9,5 th), dan Riedo Devara (8 th).

Mensyukuri nikmat, sangat penting

Dengan informasi yang didapatnya melalui kajian Al Qur’an, Astrie berusaha menerapkannya dalam kesehariannya. Untuk menjaga kesehatan dan kecantikannya misalnya, ia menjalankan puasa Senin-Kamis. “Jika niat puasa kita hanya ingin kurus, ya kita hanya dapat kurusnya. Tetapi jika diniatkan pertama karena Allah, kemudian untuk mendapatkan kesehatan, lalu kecantikan, bugar, sabar, tawaddu, maka kita bisa mendapatkan semuanya, “sambung Astrie.

3 foto astrie ivo sosok

Masih dalam konteks bersyukur, menurut Astrie, sebagai perempuan patut menjaga apa yang telah diberikan Allah kepada kita. “Kita dikasih kulit yang mulus, ya dijaga dong kemulusannya, dilulur, diberi vitamin. Jadi, ada hak diri, “katanya. Ia sendiri, dalam keseharian selalu membagi waktu untuk Allah, untuk keluarga, dan waktu untuk diri sendiri. Pulang senam dari Namarina, misalnya, ia membersihkan diri hampir sehari penuh. Mulai dari creambath, body & scrub, masker, manikur, sampai pedikur. “Walaupun pakai jilbab, potongan rambut saya tetap trendi, lho,” canda Astrie.

Menapaki tahun ini, Astrie ingin lebih sholehah. “Saya datang ke kajian ilmu, suka mengamalkan, mencoba, tetapi masih sering gagal. Misalnya, masih mencari rumusan bagaimana menjadi orang yang baik, tawaddu, ikhlas, gemar bersedekah, nggak bisa lihat saudara kita sakit, atau kurang sabar menghadapi anak-anak, belum terampil untuk memanaj kesabaran. Ini yang akan saya benahi sedikit demi sedikit, “tuturnya.

Tip Tidur Nyenyak ala Astrie

  • Berhentilah makan minimal 2 jam sebelum waktu tidur
  • Bersihkan diri dari kotoran hati
  • Perbanyaklah dzikir menjelang tidur

Tip membentuk keluarga harmonis ala Astrie

  1. Kita harus sadar bahwa kita ini adalah individu yang dipertemukan dan masih dalam proses pertumbuhan, bahwa nobody’s perfect. Kuncinya bersyukur. Kalau badai datang ke keluarga kita, kita justru harus saling berpegangan tangan dengan erat. Jadi, badai itu bukan alasan untuk kita berlepasan tangan, karena kalau kita berpegangan tangan dan melewati badai itu, kita mampu menjadi keluarga yang sakinah.
  2. Pasangan suami istri harus bersinergi. Tidak ada pembagian tugas antara suami dan istri. Misalnya cari uang  tugas suami, menjaga anak tugas istri. Tidak harus demikian di keluarga kami. Jadi, kalau saya syuting dan pulangnya malam hari, suami langsung mengambil alih tugas saya, dan ia tidak risih membacakan dongeng kepada anak-anak./ Nirmala

 

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found