logo web baru

BROWSING: Sosok

Dewi Lestari

30 Jan 2017 0 comment
Dewi Lestari Dewi Lestari

Perjalanan Spiritual Tidak Kenal Mundur

Dee demikian sapaan penulis novel laris serial Supernova  ini. Sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai talkshow bertemakan parenting dan spiritualitas, ia kini sedang menggarap novel terbarunya, Supernova: “Partikel” yang juga bernuansa spiritual.

Apa yang membawa Dee masuk ke dunia spiritual? “Sebetulnya proses itu berlangsung sejak akhir 1999. Ketertarikan pada spiritualitas itu inheren pada setiap orang, hanya masalah momen  saja yang berbeda-beda,” ujarnya. “Pencarian tentang Tuhan, eksistensi, makna hidup, dan sejenisnya memang selalu mengusik saya sejak kecil, dan bolanya bergulir terus hingga sampai puncaknya tahun 1999,” lanjutnya.
 
Sejak itu, menurut Dee konsepnya tentang Tuhan dan agama berubah total. “Saya memutuskan untuk melepaskan segala ‘jubah’ keagamaan dan ingin mengapresiasi hidup dari titik nol. Sejujurnya, saya sangat nyaman dengan kondisi ‘jalan tak berpeta’ tersebut. Namun setelah berkeluarga, saya mulai mempertimbangkan untuk berada dalam satu koridor khusus.

Saya mendapatkan banyak kecocokan dengan ajaran Buddha, walaupun itu tidak berarti bahwa saya lantas berhenti mengeksplorasi. Prinsipnya, apa pun yang cocok dengan intuisi dan mencerahkan saya secara pribadi, akan saya terima,” sambungnya. Misalnya, ia banyak sekali mendapatkan kejernihan dan wawasan baru dari  The Book of Kabballah yang ditulis oleh Leonora Leet,  juga dari sains yang berbasis monisme idealistik (misalnya, buku-buku Amit Goswami). “Pendekatan eklektik yang luwes semacam ini memang yang paling pas bagi saya. Perjalanan spiritual adalah perjalanan yang personal. Meski dalam prosesnya kita dibantu oleh banyak orang dan banyak jiwa lain, hanya kitalah yang tahu apa yang tepat bagi diri kita sendiri,” tuturnya.

2 foto dewi lestari sosokDewi Lestari

“Sekarang saya mengerti bahwa gerbang menuju kesejatian memang bermacam-macam, barangkali itulah gerbang yang dipilih oleh jiwa saya. Selain itu, secara umum saya memang sangat terusik dengan fenomena perseteruan agama, yaitu adanya orang-orang yang bisa saling membunuh atas nama Tuhan. Di Indonesia, bahkan di dunia, sejarah manusia berdarah-darah akibat membela Tuhannya masing-masing. Itu membuat saya semakin tergerak untuk berbuat sesuatu, karena menurut saya masalah dunia ini terletak pada pemahaman dasar manusia akan Tuhan,” sambungnya.

“Saya percaya bahwa pemahaman seseorang akan Tuhan (atau non-Tuhan) itu otomatis menentukan segala hal lainnya. Prioritas saya berubah, cara saya memandang sebuah hubungan pun berubah, baik itu percintaan atau persahabatan. Dalam keseharian, saya lebih menghargai proses, berusaha tidak menghakimi berdasarkan polaritas hitam-putih, tapi berusaha melihat segala inti permasalahan secara netral, bukan apa yang kelihatan di permukaan,” ujarnya.
“Maka kemudian saya menulis Supernova, novel serial bertema spiritual. Supernova merupakan cermin perjalanan batin saya. Saya ingin berbagi cara pandang, syukur kalau ada yang merasa cocok,” ujarnya.

Dengan cara itu Dee merasa jauh lebih tenang, lebih seimbang, dan lebih sehat secara fisik. “Dulu saya target minded (pemburu target, Red.), sekarang saya nggak terlalu ngoyo lagi soal pekerjaan, dan lebih relaks. Menurut saya, hasilnya malah lebih baik. Intinya, saya lebih bisa menerima diri. Semakin kenal dan semakin menerima.

“Proses ini memang tidak mudah. Perjalanan spiritual itu tidak kenal mundur, sama halnya dengan evolusi. Kita bisa berpencar arah, tapi semua melangkah maju dengan waktu dan kecocokan caranya masing-masing,” lanjut Dee. (N)     

Tip bebas stres ala Dee:

Hidup ini hanya kumpulan aktor termasuk diri kita sendiri yang sedang menjalani lakon (acting).  Buddhisme mengenal istilah anicca, yakni tidak ada yang kekal. Stres itu timbul karena kita ingin meyakini beberapa hal itu nyata dan kekal, padahal tidak ada yang kekal. Bahagia, sedih, senang maupun sakit, semua itu senantiasa berubah, dan hidup ini cair. Jika melawan, kita justru tenggelam. Berenang oke, asal tidak menentang arus, karena akhirnya kelelahan. Ketika tengah menjalani sesuatu saya kadang-kadang berkata pada diri sendiri “Cut!”, dan itu menyadarkan saya bahwa hidup ini rangkaian adegan belaka. Susah atau senang itu bikinan kita sendiri. Lewat beradegan, kita menerima pelajaran, dan apabila pelajaran itu selesai maka kita beradegan baru. Kalau belum, maka adegannya akan diulang-ulang.

Kunci sehat Dee:

  • Pelaku vegetarian Lacto-Ovo
  • Melakukan, jalan pagi, aerobik dan taebo.
  • Belajar Reiki.

 

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found