logo web baru

BROWSING: Sosok

Okky Asokawati

24 Mar 2017 0 comment
Okky Asokawati Okky Asokawati

Menyiapkan Bekal “Mudik”

Menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, kini ia menjadi lebih pasrah dan sering “membaca tanda”.

Suatu siang di sebuah rumah di bilangan Kemang, Jakarta Selatan.  Seorang wanita, tinggi 174 cm, menyambut kami dengan ramah. Mengenakan atasan batik selutut dan celana jeans, penampilannya tampak santai.

Sejak menjadi anggota DPR, hari-hari Okky Asokawati, mantan top model dan peragawati tahun 1980-an itu memang padat. Sebagian besar dipenuhi dengan rapat dan kunjungan kerja ke berbagai daerah, tak jarang hingga ke daerah terpencil di pelosok tanah air. Menurut  Okky, aktivitas baru yang membuatnya lebih dekat pada kehidupan wong cilik ini memberi banyak pelajaran pada kehidupannya secara pribadi.

“Sekarang saya menjadi lebih bersyukur… Kalau dulu cenderung memandang hidup dari sisi materi, sekarang tidak lagi. Ternyata benar, gaya hidup itu berpengaruh sekali terhadap cara berpikir,” ia mengakui.

Ingin dihargai

Nama Okky melegenda sebagai top model dan peragawati Indonesia era 80-an. Karirnya diawali dengan mengikuti pemilihan Putri Remaja tahun 1978 yang diselenggarakan oleh majalah GADIS, dan berhasil menyandang predikat Putri Berpenampilan Pakaian Malam Terbaik. Sejak itu, wajahnya bolak-balik muncul di halaman mode dan panggung peragaan busana para perancang tersohor di negeri ini. Busana yang ia bawakan pun bukan sembarangan, melainkan gaun terakhir, yang dikenal sebagai karya puncak dari sang perancang. “Hidup saya kala itu dipenuhi tepuk tangan,” begitu ia mengenang.

Kondisi itu pas benar dengan cita-citanya. Sejak masa SMP, Okky memiliki buku catatan yang berisi kumpulan “mimpi”. Buku itu dipenuhi dengan guntingan gambar Emillia Contessa, yang saat itu sedang popular sebagai penyanyi. “Saya ingin menjadi orang terkenal seperti dia, meskipun bukan sebagai penyanyi,” katanya.

Terus terang, Okky mengatakan keinginan itu tumbuh dari situasinya di masa kecil. Ketika ia baru duduk di kelas I SD, A.Tanuamidjaja (alm), ayahnya yang polisi, diadili dengan tuduhan terlibat G30S/PKI dan harus mendekam selama 14 tahun sebagai tahanan politik. Saat itu, Sutardjiah, Sang Ibu, harus membesarkan enam anaknya seorang diri, dengan memberi les piano dan bahasa Inggris, kesana-kemari. Kehidupan yang serba sederhana itu membuat ia merasa tidak punya sesuatu yang dibanggakan seperti teman-temannya yang lain. Apalagi, siswa-siswa sekolahnya saat itu kebanyakan berasal dari keluarga berada.

3 foto okky

“Hingga suatu hari di sekolah ada ulangan matematika, tentang kali-kalian. Sebenarnya saya tidak bisa, tapi Mbak Ita, kakak kedua, memaksa saya untuk belajar. Ternyata esoknya saya bisa memperoleh nilai paling bagus. Sejak itulah teman-teman mulai memperhatikan saya, bahkan mau mengajak bermain,” tuturnya. Okky kecil pun belajar, supaya dihargai seseorang harus punya kelebihan.

“Dituduh” ambisius

Itu sebabnya, ketika karirnya sempat membuat kuliahnya di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, terlantar, ia tak tinggal diam. Okky memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah dan lulus sebagai sarjana pada tahun 1988. Pada tahun yang sama ia mendirikan OQ Modeling, sekolah yang mengajarkan keahlian menjadi model profesional. Sekolah ini kini sudah memiliki cabang di Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Bandung, dan Semarang.

Tak hanya menjadi model dan bintang iklan, wanita yang lahir di Jakarta pada 6 Maret 1961 ini juga sempat menjadi pembawa acara dan berakting di layar kaca. Acara yang ia pandu tak jauh-jauh dari ilmu yang ia pelajari, yaitu “Oh Mama Oh Papa” di ANTV. Selama enam tahun ia menekuni dunia jurnalistik dengan menjadi Redaktur Pelaksana beberapa majalah gaya hidup. Ia juga pernah terjun dalam bisnis multilevel marketing (MLM) yang memasarkan aneka produk kesehatan. Itu untuk memenuhi daftar “mimpi”-nya yang di antaranya berbunyi: ingin punya penghasilan minimal 50 juta rupiah per bulan, deposito sebesar 100 juta rupiah, dan rumah besar di Pondok Indah. Merasa belum cukup, ia pun meneruskan studinya dengan mengambil program pasca sarjana jurusan Intervensi Sosial, di fakultas yang sama seperti ia memperoleh gelar sarjana.

Karir yang dijalani itu sempat membuat Okky “dituduh” ambisius dan kemaruk oleh sebagian orang. Namun, ia menampik. “Menurut saya, ini hanya fokus terhadap keinginan dan tujuan hidup. Selama tidak menghalalkan segala cara dan menjegal orang lain, saya rasa tidak apa-apa. Bukankah hidup memang harus selalu punya rencana dan kita wajib berusaha mewujudkannya?” katanya.

Pelajaran demi pelajaran

Perlahan-lahan, pertanyaan itu menghadirkan jawaban demi jawaban. Ternyata, tidak semua yang ia rencanakan dan usahakan sekuat tenaga akan selalu tercapai.
Bermula dari suatu pagelaran busana, saat itu Okky tak lagi diminta membawakan gaun terakhir. “Saya shock, terpukul, dan bertanya-tanya. Kok bisa? Padahal, dari segi fisik, pengalaman, dan kemampuan, saya tidak kalah dengan penggantinya,” Okky mengenang.

4 foto okky

Kemudian, disusul rumahtangganya yang harus berakhir dengan perceraian. Meskipun menyadari sebagai pilihan terbaik, ia mengakui perceraian bukanlah gambaran idealnya mengenai sebuah pernikahan. Terlebih, ada Tanisa Diva Siti Murbarani (15 tahun), yang saat itu masih kecil dan perlu sosok ayah.

Ketika beberapa tahun kemudian, ia menemukan tambatan hatinya pada Fajar Tyas Sasono Padmodimulyo (alm), kebahagiaan itu tidak dirasakan lama. Sang suami sering sakit, dan meninggal dunia saat pernikahan mereka baru menginjak tahun ketiga. Padahal, saat itu Queentadira Asokawati Padmodimulyo (4 tahun), buah cinta mereka, baru berusia beberapa bulan.

“Kenapa harus saya?” Okky menuturkan, hatinya sempat berontak dan menggugat Tuhan. Kejadian demi kejadian, serta pertanyaan demi pertanyaan, menuntunnya untuk mempelajari hidup secara lebih mendalam. Ia mengaku lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, dan menemukan ketenteraman. “Ternyata, manusia hanya bisa berencana dan berusaha. Tuhanlah yang Maha Menentukan hasilnya,” ia berkesimpulan.

Menjadi anggota DPR

Kenikmatan baru yang Okky rasakan itu membuatnya lebih pasrah dan rendah hati terhadap Yang Kuasa. Ia bahkan tak khawatir akan kehilangan pemasukan saat memutuskan untuk mengubah penampilanya, dengan berjilbab.

Di atas panggung, karirnya memang tak secemerlang dulu. Namun keberuntungannya seperti bersinar dari sisi lain. Pada tahun 2006, usahanya dalam meningkatkan citra model dengan mendirikan sekolah modeling pertama di Indonesia, memperoleh penghargaan Fashion Icon Award dari Jakarta Fashion Food and Festival.

Dianggap layak mewakili ikon wanita aktif dan mampu berinisiatif, setahun kemudian, Surya Dharma Ali (Menteri Koperasi saat itu), mengangkatnya menjadi Duta Koperasi Wanita Indonesia. Predikat itu membawa hidupnya bergulir, dan sampai pada posisinya yang sekarang.

1 foto okky

Menurut Okky, bisa dibilang menjadi anggota DPR adalah sebuah “kecelakaan”. “Pada saat menjadi Duta Koperasi itulah saya ditawari sebuah partai untuk menjadi kandidat wakil rakyat,” tuturnya. Pada saat itu, ia berpikir, “Kalau dimulai  dengan niat baik, mengapa tidak? Siapa tahu, ini cara Tuhan dalam memberi nikmat lebih banyak,” tambahnya.

Mulai tahun 2009 lalu, ia pun resmi menjabat sebagai anggota DPR dan ditugaskan di Komisi IX yang menangani masalah tenaga kerja, transmigrasi, kependudukan, dan kesehatan.

Membaca tanda

Okky mengakui, menjadi anggota DPR membuat matanya seolah dibukakan lebih lebar lagi. Banyak sekali hal yang dulu tak pernah terpikirkan sama sekali, sekarang justru menjadi makanannya sehari-hari. Sekarang, misalnya, ia harus bersedia terjun langsung ke tempat-tempat kumuh dan melihat dari dekat seperti apa kehidupan mereka.

“Jangankan untuk memikirkan mode atau fashion, untuk makan saja mereka sulit. Subhanallah… Melihat semua itu, sekarang saya menjadi lebih bersyukur. Kalau dulu cenderung memandang hidup dari sisi materi, sekarang tidak lagi,” ia menuturkan.
Ia setuju, gaya hidup seseorang dan lingkungan tempat ia bergaul, sangat berpengaruh terhadap cara berpikir. Sering berkeliling nusantara dan menyaksikan kerja keras mereka menghasilkan benda kerajinan, misalnya, membuat ia lebih mencintai produk-produk Indonesia.

“Dulu, saya memakai batik dan aksesori dari daerah hanya di atas panggung, pada saat pagelaran busana. Sehari-harinya ya… hanya mau menyentuh barang-barang bermerk! Sekarang, saya bisa merasakan kenikmatan menenteng tas anyaman rotan dari Yogyakarta, atau kain dari daerah lainnya. Ternyata, ukuran kebahagiaan itu tidak ditentukan oleh yang ada di luar sana, tetapi oleh diri kita sendiri, yang berasal dari dalam sini,” ujarnya, sambil menangkupkan kedua tangannya ke arah dada.

Bagi Okky, kejadian demi kejadian yang membuatnya belajar itu merupakan ayat-ayat kauniah (ayat yang tak tertulis dalam kitab suci-Red.), yaitu cara Tuhan menyampaikan pesan kebajikan untuk umat-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, di usianya yang menginjak setengah abad, keinginannya tidak macam-macam. “Saya hanya berharap agar senantiasa diberi kemudahan dan kekuatan dalam membaca tanda dan ayat-ayat kauniah tadi, sebagai bekal “mudik” pada saatnya nanti. Oya, satu lagi… menjadi pribadi yang lebih sabar, termasuk dalam membesarkan anak-anak. Semoga, bulan Ramadan dan Idul Fitri kali ini bisa menjadi kesempatan istimewa bagi saya dalam  menjadi manusia yang lebih baik lagi,” tutur Okky sambil tersenyum, menutup perjumpaan kami.(N)

 

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found